Terbaru

Puter Pelung

Memulai Berbisnis Kecil Dengan Ternak Puter Pelung : Pengantar

Semua Berawal dari Sebuah Ide yang Baik, Langkah Yang Benar dan Hasil yang Sesuai Harapan

Prakata :

Saya hanyalah seorang pemimpi, bangun dari tidur untuk mengingat kembali hal yang tergambar samar dalam angan. Mencoba mengurai sesuatu yang tak tahu berapa lamanya aku berimajinasi. Namun mentari tak mau berlambat untuk menunjukan teriknya. Bergegaslah badan ini, bergerak terbangun, dan melangkah kan kaki, dengan bimbingan hati, untuk segera bersuci kan diri untuk melaksanakan Subuh pagi ini.

Bismillahirrahman .... Allahu'akbar

Segelas teh manis, menemani aktifitas rutin pagi. Membantu isteri, mengajak anak bermain di pagi hari. Dian masih kecil, jam 5 pagi pun anakku sudah mulai bangun, saat ku tulis ini, belum genap dia berusia 9 bulan. Seumur itu pula aku mulai belajar mencari dan mencoba usaha sampingan menjadi seorang breeder / peternak burung. Dari awalnya aku tertarik berternak parkit dan love bird. Hingga mencoba burung dengan pakan sejenis biji-bijian. Kita tahu parkit lokal, selalu diminati orang, harga yang naik turun namun tetap menjanjikan sebuah keuntungan bagi peternaknya. Serta Love Bird, burung satu ini tentu saja sudah banyak didengar oleh kalangan pecinta kicau mania.

Kandang ala kadarnya mulai terisi burung parkit, 7 pasang untuk pemulaan. Burung parkit kita pelihara secara koloni, di kandang ukuran 1 x 3 Meter. Lumayan untuk ukurannya untuk kapasitas 14 ekor parkit siapan.

Rasa tak sabar sepertinya telah membuat naluri bisnis ini mengalahkan ego untuk belajar tahap demi tahap, step by step untuk menjadi breeder parkit yang handal. Penambahan bibit 5 pasang. Hingga tepat 24 ekor siapan parkit untuk menjadi ladang rupiah. Pakan, Glodok dan tempat minum selalu di cek tiap hari, hal ini wajar bagi seorang pemula yang berharap apa yang dia ternak untuk bisa segera membuahkan hasil. Mengecek kesehatan parkit, dalam kurang 1 bulan 3 -8 parkit mati. Wajar, mungkin kami baru belajar.

Glodok kita check untuk melihat apakan parkit sudah mulai bertelur, dan apa yang diharapkan mulai kelihatan nampak ada 1 glodok sudah berisi telur. Dimana ini menambah semangat untuk terus beroptimis. Hingga anakan pertama menetas dalam kandang koloni. Disusul glodok-glodok lain yang berisi telur dan muncul anakan parkit.

Namun kandang yang tidak berjauhan dengan kandang ayam, hingga akhirnya sebuah masalah baru ketika telur-telur parkit mulai menetas. Di dalam kotak / glodok, ada hewan parasit semacam kutu pada ayam. Yaa seperti halnya ayam setelah menetaskan telurnya, muncul "gurem". Kutu ini sangat mengganggu pertumbuhan anakan parkit, bagaimana tidak, dia menghisap darah anakan dan berkembang biak sangat cepat di dalam glodok parkit.

2-3 hari sekali kami lakukan penyemprotan dengan obat, dan berhasil. Namun karena tidak kesabaran, karena setiap kali telur parkit menetas dapat dipastikan muncul kembali itu kutu. Hasil panen tidak bisa sesuai harapan. Hingga akhirnya kami melepaskan parkit untuk dijual. Kita tidak bicara untuk rugi, namun banyak hal yang kami ambil pelajarannnya. Perawatan kandang, kebersihan, kesehatan indukan, kebersihan glodok dan perawatan pada anakan setiap burung menetas adalah perlu kecermatan tersendiri. Begitu pula dengan love bird yang kami koloni.

Kesulitan membedakan antara pejantan dan betina, menjadi alasan kami untuk memilih beternak secara koloni. Secara kandang bersebelahan dengan parkit, namun sepertinya love bird lebih pandai dari parkit untuk merawat kebersihan sarang mereka sendiri. Setiap jerami dibawanya untuk dibangun sarang dengan bagusnya di dalam glodok. Hingga mereka bisa membuat tempat yang nyaman sendiri untuk bertelur dan membesarkan anakannya.

Sepintar love bird ini, sehingga dia pun bisa lebih pintar dari pemilik kandang untuk mencari celah dimana dia akan terbang bebas dari kandang koloninya. Benar saja, love bird seakan selalu cek dimana kawat renggang, untuk dibuat semakin renggang dimana dibuatnya jalan untuk kabur. Yaa .. karena kurang telitinya saya, hingga satu persatu pasangan itu kabur terbang dari sangkar. Disinilah saya baru tahu masih saja ada kandang yang belum rapat.

Dan terakhir, karena sedikit putus asa, akhirnya kami tangkap semua love bird untuk dijual beserta anakannya yang ada di dalam glodok. Disaat membersihkan kandang, baru saya tahu, dimana celah lubang bagi love bird terbang. Ternyata di bawah, antara lantai dan kawat, diangkatnya dan terus kabur. Merasa dibodohi, aku hanya bisa tertawa. Selalu belajar dari sebuah kesalahan. Untuk menjadi seorang breeder yang handal. Tidak ada love bird mati ketika di koloni, tapi ada 9 love bird terbang. Hahaha ......

Disaat bersamaan dengan belajar ternak parkit dan love bird, entah kenapa saya tertarik postingan di sebuah group jual beli burung, sebuah derkuku sepasang dijual. Hingga akhirnya saya mencoba untuk mencari informasi tentang derkuku jenis ini, yah banyak sekali yang membahas bagaimana beternak, peminatnya, lomba dan sampai harganya yang mencapai jutaan rupiah.

Bersama dengan Derkuku, kami mengenal apa itu Puter Pelung. Dan di saat yang sama kami mencoba untuk menggali informasi sebanyak mungkin. 2 burung anggungan, menjadi lengkap jika ditambahkan Perkutut.

Bermula dari 1 pasang derkuku, dan 1 ekor puter lokal. Di saat itu saya mulai mengenal berbagai istilah dalam dunia ternak burung anggungan ini. Cuhu, tumpang sari, kol buntet, puter pelung dan sejarahnya serta hal lain. Dari group di FB,

Dari sinilah, dimulai cerita tentang Dian BirdFarm dan Puter Pelung ...
Memulai Berbisnis Kecil Dengan Ternak Puter Pelung : Pengantar Reviewed by Eko Prasetyo on 8:52:00 PM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by Ternak Puter Pelung di Solo : Puter Pelung Indonesia © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.