Top Ad unit 728 × 90

Terbaru

Puter Pelung

Sejarah Burung Puter / Dederuk Jawa


Sebelum kita melakukan birding/berternak burung puter. Alangkah baiknya kita mengenal lebih dalam asal usul burung tersebut. Hal ini akan menambah wawasan keilmuan kita yang akan sedikit banyak bermanfaat untuk kesuksesan mengembang biakan burung Dederuk Jawa ini. Baik untuk kalangan penghobi burung anggungan, mereka yang tertarik untuk memelihara burung ini. Bahkan mereka yang mencoba untuk mempunyai usaha sampingan berternak burung untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Burung Puter atau juga dikenal dengan nama Dederuk jawa (Streptopelia bitorquata) adalah spesies burung dalam keluarga Columbidae (Merpati-Merpatian).  Jenis ini memiliki distribusi yang tidak merata , Dijumpai di Filipina dan Kepulauan Indonesia dari Sumatera, Jawa hingga Papua, tapi tidak ada di Kalimantan atau Sulawesi. Burung Puter  telah tersebar hingga Guam dan Kepulauan Mariana Utara, namun populasi di Guam telah berkurang dengan adanya introduksi ular coklat pohon.Burung puter/dederuk jawa adalah burung yang mudah dipelihara, cocok bagi penggemar burung pemula.

Sejarah


Dipercaya burung puter telah didomestikasi oleh manusia selama kurang lebih 2000-3000 tahun. Menurut para ahli burung ini hasil domestikasi burung African Collared Dove (Streptopelia roseogrisea ). Burung ini didomestikasi awalnya untuk keperluan upacara keagamaan dan pertunjukan sulap, terutama yg bewarna putih. Habitat alam burung puter atau dederuk jawa adalah hutan dataran rendah subtropis atau hutan dataran rendah tropis yang lembab dan hutan bakau subtropis atau hutan bakau tropis. Burung ini mudah didapat di kios atau pasar burung dan harganya relatif murah. Burung ini dalam kesehariannya jinak mudah akrab dengan manusia karena dipercaya di domestikasi ribuan tahun

Bentuk

Ciri-Ciri yang paling mudah dikenal adalah adanya kalung hitam putih pada bagian lehernya.  Tubuh berukuran sedang (30 cm). Ekor panjang. Tubuh warna coklat kemerah-jambuan. Mirip Tekukur/Derkuku, perbedaan antara tekukur/derkuku biasa dengan burung puter/dederuk jawa adalah warna kepala lebih abu-abu. Bercak hitam pada sisi leher bertepi putih. Tidak berbintik putih. Bagian tengah membujur bulu ekor berwarna coklat. Kedua sisi bulu ekor abu-abu dengan tepi agak putih. Iris jingga, paruh hitam dengan pangkal merah, kaki merah keunguan. Suaranya adalah "Kuk... Keruk...kuk"

Makanan

Burung puter/dederuk jawa rajin bersuara, dan anggungannya khas ini membuat burung ini juga banyak di pelihara oleh masyarakat.  Disamping itu harganya juga cukup terjangkau.  Untuk makanan sehari-hari burung ini senang dengan bentuk biji-bijian seperti beras merah, jagung dan kacang hijau.  Meski dengan pakan yang minimalis namun burung tetap rajin bersuara.

Warna


Banyak dikenal pada awalnya hanya 2, yaitu burung puter putih, warna putih mulus (white color) dan puter coklat, warna coklat muda (blond color). Kemudian tahun 1950an didatangkan African Collared Dove dan disilangkan dengan burung puter (ringneck dove). Hasil dari persilangan ini menghasilkan burung puter berwarna coklat yg lebih gelap/coklat tua, yg kemudian diberi nama wild color

Varietas Baru dalam Anggungan dan Warna

Semakin banyaknya mereka yang berusaha berternak dan mengembangkan burung ini, maka semakin banyak pula jenis-jenis burung puter yang akan kita temui. Mulai dibedakan dengan suara ataupun dari segi warna. Dari segi suara yang saat ini ada, Puter lokal dan Puter Pelung yang beredar saat ini di Indonesia. Dan segi warna, Bond Color, White Color, Wild Color, Albino, Invory, Pied, Rosy, Tangerine, Frosty, Apricot, Ash, Blond Frosty, Bulleyed white, Ice, Light Ash, Orange, Orange Neck, Orange Pearl, Orange whiteback. Peach, Silver Ivory, Sunkist dan banyak lain varian warna baru.
Sejarah Burung Puter / Dederuk Jawa Reviewed by Eko Prasetyo on 6:07:00 AM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by Ternak Puter Pelung di Solo : Puter Pelung Indonesia © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.